SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
SMK PL Leonardo - Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.30 Klaten - Jawa Tengah 57432  Telp.(0272) 321949 Fax.(0272) 327347
Senin, 18 November 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


10.11.2007 22:27:53 748x dibaca.
ARTIKEL
KEMARAU DAN HUJAN

Ketika orang sedang terlelap melarutkan malam, seorang lelaki renta terbangun ditengah malam buta. Dalam mata yang sayu dan hati yang terbungkus kegalauan ia tersenyum kepada bintang gemintang yang menaunginya di tengah kesunyian itu, sesekali suara binatang malam bersautan puji memuji malam yang terdiam membisu tak banyak polah. Hatinya bergejolak karena sudah separuh musim hujan tak kunjung turun, walau sudah berdoa novena, rosario dan lima belas kali jalan salib dilalui, tetapi Tuhan tetap terdiam pada pendiriannya bahwa tidak akan menurun setetespun kepada padi disawah si tua renta yang belum lelah berdoa.

Orang sudah memprotes kekuasaan Tuhan, Dewa penguasa air dan banyak istilah manusia yang menggantikan Dia yang transenden, tetapi faktanya air mata langit belum juga mau menetes kepada kekasih bumi.Sang bapak tua renta mulai bosan berdoa, memohon, merintih, mengaduh seorang diri. Dikumpulkanlah anak-anaknya, cucu-cucunya, cicit-cicitnya, canggahnya dan semua yang tak terperi jumlahnya. Dipanggilnya semua tetangga untuk berdoa kepada Sang Khalik bahwa tanah yang mereka tempati telah mulai bosan kering kerontang dan telah memakan korban sia-sia, mengapa ? karena baru terdengar dipagi yang menyingkirkan malam dua orang terkapar dipematang sawah yang banyak semut berlimbah darah mempertahan harga diri dan haknya untuk mengairi sepetak sawah yang bila panen hanya cukup untuk makan dua anaknya yang masih balita selama seminggu.

Oh nirwana, oh suarga dimanakah hatimu ? mengapakah engkau tega begitu rupa tiada menurunkan sejenak kekayaan dilangit ?. tetapi setelah berhari-hari mereka berkumpul, menangis dan meratapi kedosaannya terdengar gemericik air, tetapi terkejutlah pula ketika seorang anak keluar untuk menyaksikan fakta, seorang nenek dengan tersenyum dibalik rerimbunan dan berkata “ ada apa nak ? kok keluar? doanya belum selesai tho ? ini belum hujan, kalau kamu dengar suara gemericik air tadi karena nenek baru saja selesai kencing”.

Tuhan mengapakah Engkau begitu tega membiarkan padi yang hijau menjadi kering, tanah-tanah yang berhumus menjadi kering kerontang, dan hati yang damai menjadi gundah gulana hanya karena hujan belum juga tiba ? dan pada akhir doa yang sudah menghabiskan kata dan makna terdengarlah helilintar memekakkan telinga, petir menyambar-nyambar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain dan hujan lebat tak terkirakan datang juga, hujan berhari hari-hari dan kering menjadi kebasahan, namun hujan tidak mengenal waktu untuk berhenti, banjir tiba dan semuanya pergi tanpa bekas disapu air yang tidak mengenal rintihan. Dari sana muncul keluhan, rintihan, tangis dan ratap-meratap terdengar tanpa orang mendengarkan.

Bapak tua sang pendoa kembali kepada diam dan senyum dan kata dalam hatinya yang tak pernah diam berdoa : Tuhan…Engkau memang tak terpikirkan, disaat kekeringan Engkau terdiam dengan kekeringan yang Engkau tawarkan, disaat hujan lebat menantang bumi Engkau terdiam tak terperi, kini kami pasrah kepadaMu, jadilah menurut kehendakMu saja, seperti kata Maria, Bunda semua orang beriman pada dua ribu atau akan terjadi selamanya. Engkaulah Tuhan yang menguasai nafas yang jernih atau yang berbau, Tuhan orang yang senang mandi atau yang tidak pernah mandi, Tuhan seorang pendoa atau Tuhan seorang pemerkosa. Aku diam dalam keheninganMu. Hari lalu dan hari ini dan mungkin hari yang akan datang telah terjadi sesuatu yang yang tidak dapat kupastikan serta kesadaranku yang lalu menghantarkan aku kepada engkau Sang Pemilik. Pius_Pranoto@yahoo.com guru religiositas.





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 35.172.195.49 : 2 ms   
SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
 © 2019  http://smkplleonardo.pangudiluhur.org/