SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
SMK PL Leonardo - Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.30 Klaten - Jawa Tengah 57432  Telp.(0272) 321949 Fax.(0272) 327347
Selasa, 19 November 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


23.09.2008 22:44:16 722x dibaca.
ARTIKEL
“PAPL TIDAK SALAH, MEMILIH KONSERVASI SEBAGAI VISI YANG MENGHIDUPI KELOMPOK”

“Srigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput, dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung. Dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada lagi yang berbuat jahat atau yang berlaku busuk, sebab seluruh bumi penuh pengenalan akan Tuhan”. Amin Kalaupun sebuah kelompok mencoba untuk berinovasi dengan visi dan misinya, karena kelompok tersebut ingin berbenah dan berubah mempertajam jati diri kelompok. Dan hal ini adalah wajar.

Dinamika proses harus tetap berjalan Karena dengan demikian kelompok ini memiliki roh dan semangat untuk bertumbuh dan berkembang. Komunitas Pecinta Alam Pangudi Luhur (PAPL) Se-Indonesia, adalah komunitas yang besar. Dimana sebagian besar anggota komunitas adalah kaum muda. Kaum muda yang nantinya menjadi penentu masa depan bangsa. Melalui tangan-tangan-nya, pemikiran-pemikiranya dan semua tindakanya sungguh mungkin akan membawa perubahan bagi bangsa ini, entah itu baik ataupun buruk sekalipun. Karena kaum muda memiliki pengaruh yang besar dalam merubah budaya. Dan hal yang membanggakan, ketika PAPL berani mengikrarkan diri menjadi sebuah komunitas Conservationists. Sebuah dinamika pencarian akan visi yang semakin mempertajam jati diri kelompok, akhirnya memilih conservationist sebagai visi yang akan dikibarkan dan diperjuangkan. Ini adalah awal perjuangan yang berat.

Kalaupun konservasi diambil sebagai ruh yang menghidupi kelompok, tentu keputusan ini bukan semata-mata dan kebetulan datang dengan sendirinya. Dan bukan sebagai ungkapan emosi sesaat, untuk meniru gaya hidup ataupun visi komunitas lain yang kebetulan baru trend untuk di dengung-dengungkan, tetapi justru karena sadar bahwa setiap orang maupun komunitas yang mempunyai kehendak baik dalam melestarikan sumber daya alam ini harus didukung dan semakin dikuatkan. hal ini berat, sulit dan cenderung bertentangan dengan budaya sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Kapan lagi jika hal yang sulit namun mulia ini tidak dimulai dari sekarang? Apakah kita akan menunggu bumi hingga rusak semakin parah? Bukankah pencegahan secara preventive lebih baik daripada mengobati setelah semua terjadai? Kita bisa memulainya dari hal-hal yang kecil, dengan melakukan tindakan pro konservasi di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar kita. Kita harus bisa mempercayai bahwa perubahan terhadap komunitas yang besar berawal dari komunitas yang kecil, yaitu diri kita. Dengan kata lain kita –lah yang harusnya memulai.

Tingkah laku serta tutur kata kita mulai sekarang harus bisa mencerminkan sebagai conservationist; bagaimana kita memperlakukan sampah? Bagaiman sikap kita terhadap sumber daya alam yang tidak terbaharukan? Bagaimana sikap kita terhadap tanaman, dan hewan-hewan di lingkungan kita? Jika yang terjadi seperti sekarang; budaya kebut-kebutan anak muda yang cenderung memboroskan BBM dan mencemari lingkungan, buang sampah sembarangan dan mengambil tanaman langka seperti edelwish, anggrek gunung dan lain sebagainya ketika kita mendaki sebuah gunung, membuat graffiti di tempat yang salah, berburu dan memelihara burung langka dalam sangkar dengan maksud apapun adalah budaya-budaya yang sama sekali bertolak belakang dengan pro konservasi.

Jika kita telah berani membudayakan tindakan pro konservasi dalam diri kita, baiklah jika kita berani mengajak orang lain untuk menapaki jejak kita. Kita adalah anggota PAPL. Berapa generasi baru dilahirkan setiap tahun dalam PAPL. Satu? Dua? Tiga? Sepulah? Seratus? Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah. Ini adalah peluang yang bagus, karena merekalah yang akan menjadi sahabat-sahabat kita dalam menapaki jalan menjadi conservationist. Sekarang tinggal bagaimana kita mendidik, meneladani dan mendampingi mereka. keputusan mereka untuk bergabung dengan komunitas PAPL saja sudah merupakan suatu awal yang baik dalam rangka mengkader mereka menjadi insane-insan pro konservasi.

Walau demikian kita semua sadar juga bahwa Ini adalah tantangan bagi kita komunitas yang senantiasa mencari (ngudi) kemuliaan dan keluhuran (Luhur) untuk Tuhan, sesama manusia dan seluruh alam raya. Merubah hal negative yang sudah menjadi budaya memang sulit dan kita bisa memulainya dari diri kita dan PAPL yang harapanya hingga setiap orang juga akan menjadi pro konservasi. Keyakinan kita ada karena PAPL adalah komunitas kaum muda yang nantinya akan menentukan masa depan bangsa dan mempunyai pengaruh besar dalam merubah budaya.

Akhirnya semoga harmoni kehidupan seperti yang diimpikan dan dicita-citakan Nabi Yesaya ribuan tahun yang lalu akan terwujud, sebab seluruh bumi penuh pengenalan akan Tuhan. Amin. Untuk seluruh sahabat, Salam Rimba! Lestari! Go PAPL,,,,,Go!!! Yohanes Budi Setiyawan





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 18.205.176.85 : 2 ms   
SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
 © 2019  http://smkplleonardo.pangudiluhur.org/