SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
SMK PL Leonardo - Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.30 Klaten - Jawa Tengah 57432  Telp.(0272) 321949 Fax.(0272) 327347
Senin, 18 November 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


09.10.2007 07:22:36 863x dibaca.
ARTIKEL
Pengalaman dalam mengajar religiositas

“EFEKTIFITAS MEDIA VISUAL DALAM PENINGKATAN MUTU PENGAJARAN PENDIDIKANRELIGIOSITAS”

(Pius V Joko Pranoto, SMK PL Leonardo Klaten)

Pendidikan Religiositas adalah pendidikan yang menumbuhkembangkan sikap batin siswa untuk menyadari kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama, terlebih dalam interaksi manusia dengan Tuhannya. Atas dasar definisi tersebut agama seharusnya menjadi media riil untuk terwujudnya sebuah kondisi masyarakat (siswa) yang menghargai hidup, mencintai sesama, dan memiliki interaksi personal yang intens pada pemilik kehidupan (Tuhan). Oleh undang-undang dan peraturan-peraturannya kita diwajibkan mengajarkan agama di sekolah tetapi kita tidak boleh lupa, bahwa dalam daftar ciri-ciri manusia Indonesia seutuhnya yang ditentukan oleh GBHN tidak terdapat ciri beragama, tetapi beriman dan bertaqwa.

Kebanyakan orang Indonesia mengira, bahwa orang bergama atau punya agama (having a religious) dengan sendirinya sama dengan beriman/bertaqwa atau religius (being religious). Padahal mungkin saja orang beragama hebat, tetapi iman dan taqwanya merana. Sementara RELIGIOSITAS menyentuh hal-hal yang mendalam, yang menentukan sikap dasar, yang membuat orang beramal baik, bersikap penuh belas kasih, merasa rindu dan ingin dekat dengan Tuhan. Religiositas juga bisa membuat orang berharap penuh kepercayaan, menyerahkan diri pada penyelenggaraan Ilahi, penuh cinta sayang, lembut hati, mudah memaafkan, dan yang bersinar dalam amal, karya-karya keadilan dan pengangkat kawan manusia yang menderita tanpa pamrih dsb. Jadi yang hakiki, yang esensi atau yang menjadi ROH adalah sikap dasar dan karya-karya nyata manusia yang baik. Religiositaslah (iman, harapan, cintakasih) yang menjadi tujuan pendampingan anak didik. Iman dan taqwalah menjadi unsur yang primer. Agama sangat penting, tetapi bukan tujuan, melainkan hanya jalan, wahana, sarana. Iman dan taqwa bukan monopoli satu dua agama.

Dalam setiap umat bergama selalu ada orang-orang yang beriman dan bertaqwa, seperti ada juga yang tidak beriman dan bertaqwa atau setengah-setengah dari keduanya. Namun yang kita tawarkan, hidangkan atau ajarkan di dalam kepada anak didik hanya iman, harapan, dan cintakasih.

INDENTIFIKASI MASALAH

  1. Visualisasi lebih memiliki kekuatan daripada kemampuan mendengar.
  2. Media pengajaran yang variatif, menuntut profesi guru yang kreatif.
  3. Merealisasi bahasa abstrak ke dalam dunia riil.


LANGKAH-LANGKAH PENGAMATA

A. PENGUKURAN AWAL

  1. Guru memberikan tema pengajaran pada Kompetensi dasar “Berkorban memberi Hidup” .
  2. Guru memberikan biografi singkat “Mother Teresa dari Kalkuta”.
  3. Guru membagi siswa menjadi beberapa keompok.
  4. Guru memberikan bahan diskusi dengan pertanyaan panduan untuk didiskusikan oleh kelompok masing-masing.
  5. Kelompok memberikan presentasi secara bergiliran tentang hasil diskusi kelompok di depan kelas dan membuka kesempatan untuk pertanyaan-pertanyaan pendalaman.
  6. Guru memberikan peneguhan dan pendalaman serta memberikan catatan akhir tentang tema yang dibicarakan.
  7. Guru memberikan informsasi tentang bahan tes yang akan diadakan pada pertemuan berikutnya (sebagai contoh :Kompetensi “ Berkorban memberi Hidup”)


MENGOLAH DATA

  1. Setelah diadakan ulangan dengan metode pengajaran yang telah dilakukan, guru memberikan penilaian terhadap lembar kerja siswa (Lembar UIangan).
  2. Hasil Ulangan dengan metode konvensional. (perbandingan)


KESIMPULAN AWAL

Setelah beberapa kali ulangan dengan metode pengajaran konvensional pada program tetrentu terdapat hasil ketidak tuntasan pada mata pelajaran religiositas yang relatif kontinuatif atas dasar itulah guru memberikan metode pengajaran dengan metode visualisasi yakni “menonton film Mother Theresa dari Kalkuta” pada pertemuan berikutnya.

PENGUKURAN LANJUTAN

Atas dasar hasil pengolahan nilai ulangan harian dengan metode ceramah maka guru memberikan alternatif pengajaran dengan metode sebagai berikut:

  1. Guru memberikan tema pengajaran pada Kompetensi dasar “Berkorban memberi Hidup”
  2. Guru memberikan biografi singkat “Mother Teresa dari Kalkuta”
  3. Guru membagi siswa menjadi beberapa keompok
  4. Guru memberikan bahan diskusi dengan pertanyaan panduan untuk didiskusikan oleh kelompok masing-masing.
  5. Dua kelompok memberikan presentasi secara bergiliran tentang hasil diskusi kelompok di depan kelas dan membuka kesempatan untuk pertanyaan-pertanyaan pendalaman.
  6. Guru memberikan peneguhan dan pendalaman serta memberikan catatan akhir tentang tema yang dibicarakan.
  7. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan ruang audio visual untuk melihat fim “Mother Theresa”
  8. Siswa membuat rangkuman sebagai kelengkapan atas hasil diskusi yang teah dilakukan
  9. Guru memberikan informsasi tentang bahan tes yang akan diadakan pada pertemuan berikutnya (Kompetensi “ Berkorban memberi Hidup.
  10. Setelah diadakan ulangan (Soal terlampir) dengan metode pengajaran yang telah dilakukan guru memberikan penilaian terhadap lembar kerja siswa (Lembar Ulangan).
  11. Hasil Ulangan dengan menggunakan media pembelajaran film.


HASIL PERBANDINGAN NILAI

Dengan hasil ulangan yang telah ditempuh siswa pada kompetensi dasar “berkorban memberi hidup” dengan metode yang berbeda dapat ditarik kesimpulan bahwa media visual memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan perhatian siswa terhadap suatu tema tertentu pada mata pelajaran tententu. Baik kiranya mata pelajaran ain menggunakan metode visua, apakah dengan alat peraga, film dan yang lain yang dapat menarik perhatian siswa untuk menambah perhatian serta minat belajar. Kiranya sebuah terobosan, kreatifitas sungguh dipentingkan untuk perkembangan anak didik khusunya dan untuk perkembangan pendidikan pada umumnya.

KESIMPULAN

  1. Audio visua memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perhatian siswa pada materi ajar tertentu.
  2. Guru harus berani membuat kreasi yang kreatif untuk peningkatan mutu pelajaran yang diampunya.
  3. Guru harus membuka wawasan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya media yang berkaitan dengan pengembangan profesinya.
  4. Guru harus menyadari bahwa siswa memiliki kepekaan “khusus” terhadap perkembangan ilmu pengetahuan (media visual dan komunikasi)
  5. Guru harus membuka diri terhadap sesuatu yang menjadi “trend” dan kegemaran anak muda.


B. FOLLOW UP / TINDAK LANJUT

  1. Membuat terobosan untuk bekerjasama dengan guru mata pelajaran lain (lintas pelajaran) untuk bekerjasama dalam mendalami dan menggunakan media audio visual.
  2. Memotivasi siswa untuk berani memberikan apresiasi terhadap media yang dipakai oleh guru.
  3. Guru harus selektif dalam menggunakan media film agar tidak muncul definisi yang ambigu pada konsep yang dimiliki oleh siswa.
  4. Guru harus memiliki “Sense” terhadap media yang dipakai sehingga tidak muncul pemikiran bahwa media yang dipakai asal-asalan.


PENUTUP

Demikian tulisan yang kami buat semoga anak-anak, kaum muda para siswa menjadi seorang beriman dan bertaqwa yang sungguh menghayati iman; merasakan ketertarikan terhadap Tuhannya ; peka terhadap hadirNya Tuhan dalam hidupnya  mendapat arti hidupnya melalui iman yang dimiikinya ; dan berani menyerahkan hidupnya hanya kepada penyelenggaraan Ilahi dan berani terlibat aktif dalam pengungkapan imannya ditengah hidup masyarakat banyak. Akhinya kami sampaikan “ Menjadi teladan adalah satu-satunya jalan untuk mempengaruhi orang”





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 35.172.195.49 : 2 ms   
SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
 © 2019  http://smkplleonardo.pangudiluhur.org/