SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
SMK PL Leonardo - Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.30 Klaten - Jawa Tengah 57432  Telp.(0272) 321949 Fax.(0272) 327347
Senin, 18 November 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


01.12.2007 08:59:50 850x dibaca.
ARTIKEL
SEMUA GURU ADALAH "GURU AGAMA" DAN PAHLAWAN KEHIDUPAN

Semua Manusia adalah “guru agama dan Pahlawan Kehidupan” (Guru Orientasi Pengampu Pendidikan Religiositas di SMK PL Leonardo Klaten)

Saya pernah bertanya kepada seorang teman guru matematika dimana saya mendampingi, mendidik, memotivasi perserta didik : “ Bu … dalam differensial Integral disebutkan sebuah garis yang namanya garis asymtut, atau garis yang nilainya tak terhingga, dan dalam matematika tak terhinga itu apa dan mungkin siapa ?”. Ibu guru yang cantik itu menjelaskan secara panjang lebar yang secara singkat jawabannya dapat saya tangkap sebagai berikut : “ bahwa nilai tak terhingga dalam matematika tidak lagi didefinisikan sebagai apa dan siapa, tak terhingga adalah tak ternilai (Equivalen) dan mungkin juga dalam ilmu-ilmu lain”. Dari diskusi sederhana itu hendak dikatakan bahwa kekauatan rasio ternyata tidak mampu menjawab semua persoalam hidup mananusia.

Dalam “Emotinal Inteligence” bahwa keberhasilam seseorang tidak ditentukan oleh kekuatan rasio, melainkan sangat tergantung pula pada kematangan emosional, walaupun kedua hal tersebut tidak dapat dilepaskan secara absolut. Namun bila terdapat perbandingan antara “Emotional Inteligence” dengan tulisan Drs.Suwarno : Pengantar Umum Pendidikan; Aksara Baru, tulisan Emotinal Inteligence tidak memuncul ranah manusia sebagai Homo Religius atau manusia sebagai mahkluk beragama (beriman) yang didalam dirinya terdapat unsur kecerdasan spiritual.

1. Kecerdasan Spiritual Homo Religius Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuik menghadapi dan memecahkan persoalan dan makna hidup dan nilai-nilai hidup, bukan hanya dalam konsep tetapi dalam tataran perilaku konkrit, seperti dalam Pendidikan Religiositas agama merupakan “Problem Solving” terhadap pertanyaan-pertanyaan dasar hidup manusia ; mengapa saya hidup ? mengapa saya bersedih ? mengapa saya gembira ? dan yang paling esensial adalah orang hidup harus mati ?, dimana pertanyaan itu tidak dapat dipecahkan hanya dengan kecerdesan intelektual. Keceradasan spiritual adalah kemampuan utnuk menemukan dan memberi pemaknaan atas essensi dan eksistensi hidup manusia yang dapat memberikan formula mengatasi rasa kawatir, takut dan bahkan ketakutan atas maut, dengan demukian kecerdasan spiritual homo religius adalah kemampuan untuk sadar bahwa terdapat fakta transendental (Tuhan) dalam hidupnya, dan Tuhan-lah yang menjadi inti manusia religius serta pemahaman akan sesama, dan lingkungannya (visi, misi Pendidikan Religius) yang terintegrasi dalam konteks hidup riil.

 2. Homo Religius dan Pendidikan Komunitas pendidikan (Baca : sekolah kristiani) hendaknya memunculkan ciri khasnya yang berdimensi religius, bukan agama. Maka untuk mengembangkan manusia (peserta didik) untuk cerdas spiritualitasnya bukan hanya menjadi milik guru agama, walaupun secara legalitas dan otoritas ada pada guru agama, dan mengapa kecerdasan spiritualitas penting bagi homo religius khususnya manusia kristiani ?

a. Kecerdasan spiritual penting bagi kecerdasan lain. Dalam komunitas pendidikan. Pelaku pendidikan yang sadar dengan tanggungjawab moral religius; bahwa ia dipanggil untuk mendedikasikan dirinya dalam profesi yang profesional akan memberikan “diri”nya untuk tidak sekedar komunitasnya berjalan begitu saja tetapi mengupayakan menjadi sebuah komunitas yang berdayaguna dan memiliki “roh”. Tidak sebaliknya. Oleh karenya kecerdasan spiritual hendaknya menjadi pilar utama tumbuh dan berkembangnya pendidikan sekolah (kristiani), sehingga dampak kecerdasan spiritual ini akan memicu kecerdasan intelektual, emosional serta skill personal dalam meningkatkan mutu hidup (iman). Orang yang cerdas spiritualnya akan sadar mengembangkan diri dengan berbagai kelengkapan hidup baik untuk diri, sesama, lingkungan terlebih relasional intensif dengan Tuhan.

b. Kecerdasan spiritual adalah jawaban atas masalah hidup. Mengapa didunia kita sekarang banyak kasus-kasus dimana orang tidak lagi menghargai hidup; hidup diri atau hidup sesama serta hidup lingkungannya? hal ini merupakan pukulan komulatif atas perilaku manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan (kecerdasan spiritual) dalam dirinya. Dalam konteks hidup ini, fenomena yang terjadi itu dapat didefinisikansebagai penyakit makna hidup dan nilai hidup. Orang yang bunuh diri, tidak tahu makna dan nilai hidupnya sendiri, orang yang membunuh sesama (material atau non material) tidak tahu makna hidup dan nilai serta kehadiran sesamanya, demikian juga yang lain. Hal itu dimungkinkan karena orang tidak lagi memliki “kesejatian hidup” atau dalam bahasa kita orang Pangudi luhur, orientasi Ke-Pengudi Luhur-an tidak lahi menjadi hidup dalamnya. Manusia tidak lagi menjadi dirinya namun menjadi “hamba” atas banyak hal yang bersifat kesenengan manusiawi. Hal lain yang memecahbelah eksistensi spiritual manusia adalah kejahatan.Pernah pada suatu ketika datang seorang teman, menyampaiakan kabar bahwa anaknya semata wayang sakit dan segera harus dioperasi dan membutuhkan banyak dana. Singkat cerita teman tadi hendak pinjam sejumlah uang, ternyata anak sakit hanya dipakai sebagai modus untuk menipu, kejadian tersebut dialami beberapa kali, dan pengalaman itu mendidik saya untuk tidak menaruh kepercayaan pada orang atau malah saya didik untuk berburuksangka. Dari pengalaman diatas hendak dikatakan bahwa dunia dewasa ini telah dikuasai oleh kejahatan, sadar atau tidak. Maka hal yang penting bagi dunia pendidikan (formal : sekolah atau non formal: Keluaraga &masyarakat) adalah meningkat kecerdasan spiritual.

c. Semua orang adalah guru kecerdasan spiritual. Jika manusia sebagai homo religius sadar akan dirinya dan menjadikan kecerdasan spiritual menjadi “roh” yang merasuk dalam setiap pola hidup dan kehidupan termasuk didalamnya komunitas pendidikan krsitiani, maka langit pnecwerahan akan dapat disaksikan dengan nyata. Keyakinan ini akan mengkristal bila keteladanan hidup dan tekad riil pendidik untuk secara tulus mau “menggarap” anak didik menjadi pribadi yang matang secara spiritual, hal ini tidak bisa terwujud oleh satu atau dua orang guru agama atau ber-guru-guru agama, walaupun kultur pendidikan kita menyakini bahwa guru sebagai yang digugu dan ditiru tetapi masih banyak para pendidik yang menyatakan diri sebagai yang wagu tur saru.

Demikian tulisan ini dibuat semoga kesadaran bahwa Tuhan adalah realitas absolut, Dhat Nan Mutlak selalu menjadi bagian terdalam hati nurani manusia. Kita bukan manusia dengan pengalaman spiritual tetapi kita adalah makhluk spiritual yang mengalami hidup sebagai manusia (Thilhard de Chardin)

 Disarikan dari : Drs. Suwarno : Pengantar Umum Pendidikan, Aksara baru ME.Kakok K. Diktat Pengantar Pendidikan; IPI Malang Tony Buzan.10 Cara menjadi orang cerdas spiritual Gramedia.





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 3.226.254.115 : 2 ms   
SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
 © 2019  http://smkplleonardo.pangudiluhur.org/