SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
SMK PL Leonardo - Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No.30 Klaten - Jawa Tengah 57432  Telp.(0272) 321949 Fax.(0272) 327347
Senin, 18 November 2019  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


08.06.2007 07:32:41 972x dibaca.
ARTIKEL
UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN KITA

MENGURAI PERMASALAHAN  demi  PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

T. Totok Trinugroho, ST, FIC  


Pendahuluan

Berbicara masalah pendidikan, rasanya tidak akan ada habisnya bila kita diskusikan dari berbagai sudut pandang. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tretang  SISDIKNAS, Bab I, Pasal 1 menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,  kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Pendidikan terhadap generasi muda merupakan investasi bagi masa depan bangsa ini. Oleh karena itu selaku insan pendidikan kita dituntut sikap profesional dalam mengemban tugas mulia. Artinya kalau kita mau bersungguh-sungguh akan menemukan berbagai kendala dan tantangan. Pertanyaannya adalah maukah kita profesional dalam menjalankan tugas sebagai pendidik/guru?

Baik kiranya kita melihat situasi sekitrar kita saat ini khususnya di Klaten bagian selatan yang mengalami bencana alam gempa tektonik 27 Mei 2006, yang juga merobohkan bangunan-bangunan sekolah yang ada. Begitu banyak orang yang peduli tidak hanya sesama warga Indonesia namun juga dari negara-negara sahabat turut peduli memberikan pertolongan secara nyata. Khususnya bangunan gedung sekolah yang beberapa telah diresmikan penggunaannya dan ada yang sedang dikerjakan dan masih banyak yang mungkin belum teragendakan pembangunannya.

Dalam suasana demikian kita berharap tetap berupaya menata dan meningkatkan mutu pendidikan kita,  agar tetap mampu mengantar generasi muda menyonsong masa depan yang lebih baik.


Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun

Wajib belajar dasar 9 tahun merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan critical mass dalam bidang pendidikan. Wajib belajar dilaksanakan untuk mewujudkan suatu masyarakat Indonesia yang terdidik, minimal memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang esensial. Artinya bahwa wajib belajar dasar 9 tahun ini bukan semata-mata sekedar untuk mencapai target angka partisipasi  secara maksimal namun perhatian yang sama ditujukan untuk memperbaiki  kualitas pendidikan dasar yang masih jauh dari harapan.

Kebijakan dan strategi penuntasan wajib belajar  pendidikan dasar 9 tahun dapat dirumuskan sbb: pertama, pelaksanaan wajib belajar harus ditangani secara lokal. Karena itu koordinasi pelaksanaannya harus dilakukan di tingkat kabupaten melalui program desentralisasi. Kedua, penuntasan wajib belajar tidak dapat dipisahkan dari program peningkatan mutu pendidikan. Karena itu peningkatan akses pendidikan dasar harus dilakukan bersama-sama dengan perbaikan mutu pendidikan dasar. Ketiga, memberikan peluang yang lebih besar kepada sekolah-sekolah swasta dan masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam menuntaskan wajib belajar 9 tahun.

Program inovatif yang perlu dilakukan untuk membantu menuntaskan program wajib belajar 9 tahun adalah Penyediaan insentif bagi kelompok masyarakat yang mau mendirikan lembaga pendidikan dasar, melalui bantuan bangunan, guru, buku dan alat-alat pelajaran. Keberhasilan wajib belajar merupakan tanggung jawab bersama antara orang-tua, masyarakat dan pemerintah. Wajib belajar memerlukan dana yang tidak sedikit. Karena itu mobilisasi partisipasi dan dana ketiga unsur tersebut perlu dimaksimalkan.

Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan

Meski telah diupayakan berbagai cara untuk peningkatan mutu pendidikan, namun hasilnya  belum memuaskan. Indikatornya adalah sbb:

  • Pertama, Nilai Ujian akhir  (dahulu NEM) masih jauh di bawah nilai standar yang diinginkan. Bahkan menurut data dari Human Development Index (HDI) yang dipublikasikan oleh UNDP, menempatkan bangsa kita berada pada urutan ke 109 dari 173 negara  di dunia.
  • Kedua, peningkatan penanganan masalah kedisiplinan, moral dan etika, kreativitas, kemandirian, dan sikap demokratis yang tidak mencerminkan tingkat kualitas yang diharapkan oleh masyarakat luas.
  • Ketiga, kemampua guru sangat bervariasi, dengan keahlian nilai di bawah rata-rata, dan menurut penelitian 40 % tidak standar/kompeten.
  • Keempat, kondisi lingkungan sekolah untuk menerapkan pendidikan yang bersifat non akademik juga relatif rendah.

Langkah-langkah dalam peningkatan mutu pendidikan diarahkan pada perbaikan kegiatan pembelajaran di sekolah  yang didukung oleh tebaga kependidikan yang kompeten, sarana dan prasarana yang standar, serta iklim dan suasana sekolah yang kondusif. Upaya perbaikan tersebut dilakukan melalui langkah-langkah sbb:

  • Pertama, pembenahan kurikulum  yang memberikan kemampuan dan minimum basic skills, menerapkan belajar tuntas (mastery learning), dan membangkitkan sikap kreatif, inovatif, demokratis dan mandiri bagi para siswa.
  • Kedua, peningkatan kualifikasi, kompetensi dan profesionalisme tenaga kependidikan
  • Ketiga, penetapan standar kelengkapan dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan
  • Keempat, pelaksanaan program peningkatan mutu pendidikan  berbasis sekolah
  • Kelima, penciptaan iklim dan suasana kompetitif dan koperatif antar sekolah dalam memajukan dan meningkatkan kualitas siswa dan sekolah sesuai dengan standart yang telah ditetapkan.


Teaching – Learning Process

Sekolah merupakan tempat belajar yang seharusnya memberikan layanan pembelajaran yang bermutu melalui strategi pembelajaran yang bervariasi, penilaian yang kontinu dengan follow – up yang cepat dan tepat, mendorong partisipasi siswa dalam pembelajaran, serta memerhatikan kehadiran siswa, pelaksanaan tugas-tugas siswa dan keberlanjutan tugas-tugasnya.

Sekolah efektif, strategi pembelajaran harus dipusatkan pada aktivitas siswa karena tanggung jawab belajar ada pada siswa. Untuk itu guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritasnya dalam membangun ide dan menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Di bawah ini kami paparkan ciri sekolah efektif sbb:

Konteks   Kebutuhan Masyarakat 
Lingkungan sekolah
  1. dukungan orang tua, siwa dan lingkungan
  2. adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan orang tua siswa
  3. dukungan keluarga dan masyarakat terhadap sekolah
Kebijakan pendidikan
  1. dukungan yang efektif dari sistem pendidikan]
  2. fleksibelitas dan otonomi
Input
    
Kepemimpinan yang kuat
  1. kepemimpinan dan perhatian kepada sekolah terhadap kualitas pengajaran
  2. kepala sekolah mempunyai program in service, pengawasan, supervisi, penyediaan waktu untuk merencanakan bersama-sama warga sekolah
Visi sekolah
  1. sistem nilai dan keyakinan
  2. tujuan sekolah
  3. penekanan pada pencapaian kemampuan dasar
Sumber daya
  1. dukungan materi yang cukup
  2. waktu pembelajaran yang cukup
Kualitas guru
  1. sikap positip dari para guru
  2. pemahaman yang mendalam thd pengajara
Siswa
  1. harapan yang tinggi dari siswa
  2. kerja keras dalam meraih prestasi
  3. mempunyai tanggung jawab diakui secara umum
  4. perilaku siswa yang positip
Proses
  
Iklim sekolah
  1. adanya standar  disiplin bagi warga sekolah
  2. lingkungan yang mendukung dan nyaman
  3. nyaman dan tertib dalam pembelajaran
  4. pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif untuk belajar
  5. adanya penghargaan dan insentif
  6. adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi
  7. harapan yang tinggi dari komunitas sekolah
  8. pengembangan dan kolegialitas pada guru
Kurikulum
  1. adanya pengorganisasian kurikulum
  2. menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya
PMB
  1. keterlibatan dan tanggung jawab siswa
  2. variasi strategi pembelajaran
  3. frekuensi pekerjaan rumah
  4. penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat siswa
  5. penilaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa
  6. adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin
  7. pemantauan yang berulang-ulang terhadap kemajuan belajar siswa
  8. memusatkan diri pada kurikulum dan instruksional
  9. siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah derencanakan
  10. harapan yang tinggi pada prestasi siswa
Output
 
Hasil belajar siswa
  1. siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik
  2. mampu mendemonstrasikan kebolehannya mengenai seperangkat kriteria
Pencapaian keseluruhan 
Outcome Kesempatan studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi
Kedewasaan pribadi

 

Harapan

Tentu kita bersama menpuyai suatu harapan baik, bahwa ke depan kita makin disatukan dalam ikatan luhur yaitu bersama untuk mendampingi peserta didik menyongsong masa depan. Tidak lagi ada diskriminasi sekolah Negeri dan Swasta semua sama-sama menyiapkan anak bangsa penerus dan pewaris masa depan bangsa Indonesia tercinta.

Sudah semestinya kita membangun komitmen bersama bahwa segala sesuatu terkait dengan pendidikan; kebijakan, anggaran, bantuan, kurikulum, dll – kita bicarakan bersama jangan ada pihak yang dirugikan.

Kondisi kita akibat bencana demi bencana hendaknya menyadarkan kita untuk bersama bisa menata dan membangun sistem pendidikan kita di Klaten tercinta ini. Benarkah data angka-angka partisipasi sudah tepat sehingga pemerintah akan membuka Unit Sekolah baru di kabupaten Klaten? Bijaksanakah bila suatu sekolah selalu menambah jumlah murid/kelas sesuai jumlah pendaftar?

Kita berharap pertannyaan-pertannyaan diatas bisa kita temukan jawabannya secara pasti, sehingga tidak lagi terjadi ada sekolah-sekolah swasta yang tidak mendapat murid dan akhirnya tutup karena kebijakan yang tidak tepat dan kurang adil. Mari kita satukan tekat dan langkah untuk membangun eksistensi diri selaku GURU digugu dan ditiru. Semoga.





KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


Nama
Email
Homepage
Komentar
Kode Verifikasi kode
 



^:^ : IP 3.226.254.115 : 2 ms   
SMK PANGUDI LUHUR LEONARDO
 © 2019  http://smkplleonardo.pangudiluhur.org/